Perusahaan Keluarga=Kualitas kekeluargaan...???

2 replies [Entri terakhir]
Avatar fernando
fernando
Offline
Joined: 26/01/2010
Perusahaan Keluarga=Kualitas kekeluargaan...???

Saat sy baca artikel "THE EAR THAT HEARS" di bagian akhirnya d tuliskan "Hasil suatu penelitian di lingkungan bisnis menggambarkan 70% pelanggan akan kembali jika keluhan mereka ditangani dengan baik. 95% pelanggan akan kembali jika keluhan mereka diselesaikan saat itu juga. Pelanggan akan memberitahukan kepada 8 -10 orang tentang ketidakpuasan mereka. Menghabiskan 5 – 6 x sumber daya untuk merekrut pelanggan baru dari pelanggan yang sudah ada. Kemampuan suatu perusahaan untuk mendengarkan keluhan pelanggan ternyata sangat menentukan tingkat keberhasilan perusahaan tsb"

Saya jd teringat sebuah perusahaan keluarga yang di mulai dari nol dan mulai berkembang menjadi perusahaan yg bertengger di peringkat pertama (dr 2007 sampai topik ini di listing). Tetapi yg membuat sy heran mengapa setelah menjadi besar kualitasnya menjadi benar2 "kekeluargaan". Banyak keluhan/masukan dr pelanggan yg dianggap angin lalu hanya karena pribadi yg bersangkutan tdk mau di salahkan atau lempar tanggung jawab, kenapa bisa begitu karena oknum tersebut dekat dg petinggi perusahaan inilah yg sy sebut "kualitas kekeluargaan". Sampai topik ini listing sy masih melihat kejadian ini berlangsung dan secara kasat mata semakin banyak oknum2 yg menempelkan predikat "bos" pd dirinya hanya karena "merasa" dekat dg petinggi dan sampai saat ini sy masih melihat bahwa dlm perusahaan ini memang ad beberapa pelanggan yg pergi tetapi ad jg pelanggan yg bertahan dan juga ad pertambahan pelanggan baru...

Dalam kondisi seperti ini apakah yg bisa kita lakukan....? dan apabila kita sudah melakukan yg maksimal buat perusahaan itu tetapi tertutupi oleh oknum2 yg lihai mencari muka terhadap pimpinan...adilkah..? atau inikah waktu utk keluar seperti kisah Sodom dan Gomora...? salahkah apabila kita berfikiran seperti itu...? atau andakah salah satu yg mengalami kondisi ini...?

Silahkan tanggapannya dan sharing pengalamannya.....

thanks

Stay Blessed

Avatar Yohanes
Yohanes
Offline
Joined: 09/01/2010
Nilai-nilai kekeluargaan di perusahaan keluarga

Kasus yang menarik :D

Untuk solusinya, menurut saya yang disampaikan Ko Iwan sangat tepat. Selama Tuhan masih belum memberi perintah untuk meninggalkan perusahaan tempat kita bekerja, memang yang terbaik adalah kita terus mengusahakan kesejahteraan tempat di mana kita "dibuang". Seperti halnya Tuhan memerintahkan bangsa Yehuda untuk mengusahakan kesejahteraan Babel selama mereka dibuang di sana. Bangsa Yehuda pastinya pun merasa tidak nyaman, tapi ketaatan mereka akhirnya juga menggugah hati Tuhan untuk memulihkan Yehudan dan Israel

Tapi jadi terpikir suatu pertanyaan sehubungan dengan kasus di atas: "apakah nilai-nilai kekeluargaan tidak bisa diterapkan di perusahaan keluarga?". Kalau perusahaan bukan keluarga menerapkan nilai-nilai kekeluargaan , sejauh pengamatan saya, hasilnya luar biasa. Karyawan-karyawan yang notabene tidak punya hubungan darah dengan sang pemilik menjadi mau mengabdi luar biasa terhadap si pemilik karena dianggap sebagai keluarga. Tapi jika memang karyawannya sudah berhubungan darah justru sebaiknya nilai-nilai yang diterapkan harus lebih profesional (berbasiskan kinerja dan prestasi) supaya tidak terjadi seperti kasus ini.

Avatar Iwan Santoso Narto
Iwan Santoso Narto
Offline
Joined: 12/01/2010
Dears, Visi Pakars Indonesia

Dears,

Visi Pakars Indonesia sangat berkaitan dengan 'rasul ekonomi'. Saya akan membagikan apa yang saya yakini (berkatikan dengan posting di atas) dengan konteks ini. Salah satu bagian dari pengertian rasul ekonomi adalah "menjadi penerobos ekonomi perusahaan". Memang seorang penerobos adalah seseorang yang 'lain daripada yang lain'. Penerobos itu membuat yang tidak ada menjadi ada. Dari tidak ada jalan menjadi ada jalan. Menurut hemat saya, semakin buruk kondisi suatu perusahaan, semakin anugerah untuk menjadi penerobos itu akan melimpah diberikan Tuhan. Bahkan penerobos itu memerlukan suatu kondisi yang mustahil agar nama penerobos itu akan terasa tepat disandangnya.

Salah seorang contoh penerobos ekonomi perusahaan di alkitab adalah Yusuf. Kisahnya mengajarkan seseorang anak Tuhan di dunia kerja menjadi penerobos ekonomi untuk perusahaannya. Ketika di rumah bapanya, ia dipercaya untuk memegang admionistrasi rumah bapanya; ketika di rumah Potifar, ia dipercaya untuk memegang boleh dibilang seluruh otoritas urusan rumah Potifar; bahkan ketika di penjara ia dipercaya oleh kepala penjara untuk mengurus administrasi penjara. Di manapun ia ditempatkan Yusuf tidak bergeming, ia selalu bekerja memberikan yang terbaik untuk tuannya.

Dari kisah yang singkat itu, kita bisa lihat bahwa tidak tergantung siapa tuan Yusuf, yang paling penting adalah Tuhan menyertai dia di seluruh pekerjaannya. Seperti ada kutipan mengatakan :"Tidak perduli ukuran dan bentuk sebuah botol, yang namanya krim pasti akan naik ke atas." Saya mengusulkan untuk kita berkonsentrasi menjadi 'krim' tersebut. Ini yang kita namakan 'rasul ekonomi untuk perusahaan'.

Salam...